80 Persen Petani Karet Pindah ke Kratom

PUTUSSIBAU—Puriak, Purik atau Kratom merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang bisa mengangkat prekonomian masyarakat Kapuas Hulu. Namun hingga saat ini belum ada upaya dari pemerintah daerah untuk memperjuangkan legalitas komoditi lokal ini. Agar pertani purik tidak dihantui rasa takut ditangkap pihak yang berwajib, karena ia dianggap melanggar hukum.

Bahkan, Petani Purik di Desa Nanga Kalis Kecamatan Kalis menilai Pemkab Kapuas Hulu masih ragu dalam memperjuangkan kepastian hukum terhadap tata niaga purik. Bahkan, pertani berpendapat pemerintah enggan untuk melindungi nasib petani purik. Padahal, dengan purik ini bisa membuat masyarakat petani lebih lega, pada saat tanaman karet, lada dan peluang kerja lainnya tak menentu.

Apalagi di kecamatan Kalis, 80 persen warga yang sebelumnya petani karet sudah pindah profesi sebagai petani purik. Listari salah satu petani purik mengaku, sudah dua tahun ini dirinya bersama keluarga membuka usaha Purik.

Setiap minggu dia mampu mengirim 500 Kg serbuk Purik ke kota Pontianak. Menurutnya membuka usaha purik ini sangat menjanjikan dan menambah menghasilkan.

“Usaha Purik saat ini sangat membantu kesejahteraan masyarakat, apalagi karet dan usaha lainnya tidak bisa diandalkan,” katanya saat ditemui dirumahnya, Jumat (21/4).

Ia mengatakan, saat ini memang kepastian hukum dalam menjual Purik belum diatur pemerintah. Apalagi saat ini Purik diisukan mengandung zat-zat narkoba dan menganduk zat berbahaya lainnya sehingga bisa dilarang.

Kendati isu tersebut terus menyebar, ia dan penduduk setempat tidak pernah takut untuk berusaha menanam atau membeli purik untuk dijual.

“Kami memang pernah mendengar informasi Purik ini mengandung zat Narkoba sebesar 0,2 persen, inikan jumlahnya kecil. Toh inikan untuk pengobatan,” ujarnya.

Dia menduga adanya isu Purik mengandung Narkoba, hanyalah isu persaingan bisnis belaka. Terutama untuk obat-obatan kimia yang takut tersaingi dengan adanya Purik ini. “Purik inikan sudah diketahui khasiatnya sampai keluar Negeri, karena mampu mengobati berbagai penyakit,” tuturnya.

Untuk itu ia sangat berharap, Pemkab Kapuas Hulu maupun DPRD Kapuas Hulu dapat perjuangkan legalitas Purik, sehingga ada kepastian hukum yang dapat melindungi petani Purik di Kapuas Hulu ini.

“Saran saya pemerintah dapat memilih dan memilah sebelum menentukan kepastian hukum. Dilihat dulu Azaz kemanfaatannya bagi masyarakat. Jangan asal tangkap,”tegasnya.

Sementara itu Sudirman Sekdes Nanga Kalis sangat menyayangkan lambannya pemerintah memberi kepastian hukum terkait tata niaga daun purik yang diekspor ke luar negeri ini,mestinya Pemkab Kapuas Hulu cepat bergerak.

Petani, kata dia, sudah terlanjur menanam ribuan batang dan bukan satu tahun-dua tahun. Ini sudah bertahun-tahun.

“Kenapa pemerintah biarkan petani merugi, sekarang dimana pemerintah, apakah pemerintah hadir untuk mesengsarakan rakyat saja, dengan berbagai aturan yang dibuat,” sindirnya. Ia juga mendesak pemerintah melalui instansi melakukan penelitian serta menetapkan legalitasnya.

Menurutnya, dengan masyarakatnya menanam Purik, perekonomian mereka mulai pulih. “Untuk mengandalkan karet sekarang susah, apalagi untuk menanam padi, disini tidak bisa karena sering gagal panen,” ungkapnya. Lanjutnya, rata-rata masyarakatnya menanam Purik, untuk harga Purik sendiri harganya beberbeda-beda. Jika sudah diolah menjadi tepung, harganya Rp 25-30 ribu per kg.

Sementara daun purik yang belum diolah hanaya Rp6-7 ribu per Kg. “Darah kami ini memang potensi Purik sangat besar,” jelasnya.

Bahkan, sepanjang sungai Mandai dan anak-anak sungai lain, termasuk sungai kalis ada ratusan hetar kebun purik milik petani. Untuk dia sangat berharap itu pemerintah dapat segeralah memberi kejelasan hukum pada petani purik, agar petani tenang dalam usaha.

Sumber: Pontianak Post

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

©2019 Pengusaha Kratom Indonesia

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account