Categories
Press Release

Eksporter Kratom Mulai Lega

PONTIANAK – Para pengusaha kratom atau mitragyna speciosa mulai lega. Pasalnya komoditas ini tidak masuk dalam tanaman yang dilarang peredarannya oleh Kementerian Kesehatan. “Dalam Permenkes yang baru, kratom sudah tidak masuk dalam barang yang dilarang. Ini setidaknya membuat lega para petani dan eksporter kratom,” ujar penasehat Asosiasi Kratom Borneo, Rudyzar Zaidar Mochtar kepada Pontianak Post, kemarin (20/2).

Kendati demikian, kata dia, masih ada kebingungan di antara para eksporter. Masalahnya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan belum kunjung mengeluarkan sertifikat untuk komoditas yang dalam bahasa lokal disebut daun puri ini. Padahal, kata dia, negara-negara importer seperti Amerika Serikat, Kanada dan Eropa membutuhkan sertifikat tersebut, yang masuk dalam standar operasional perdagangan lintas negara mereka. Akibatnya, para pengusaha di Kalbar, sebagai penghasil utama, kesulitan untuk memasok barang dalam jumlah besar.

“Sekarang kami hanya kirim lewat parcel saja dalam volume yang kecil. Padahal permintaan di sana besar sekali. Belum lama ini kami bertemu dengan American Kratom Associaton, dimana kebutuhan di sana mencapai 90 ton per hari. Ini tentu sayang sekali,” sebutnya. Tak ayal, harganya pun jatuh. Apalagi, beberapa negara mulai menutup pasar yang tak bisa dipenuhi oleh Indonesia. “Sekarang Papua Nuigini, Vanuatu, Salomon dan beberapa negara tropis lainnya mulai menanam dan mengeskpor kratom. Jadi harganya jatuh sekali,” sambung dia.

Menurut dia, harga daun kratom kering di tingkat petani berkisar antara Rp20-30 ribu per kilogram. Sebelumnya, harganya bisa mencapai paling murah Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan importer di Amerika membeli tepung kratom dengan harga 30 Dollar AS per kilogram. “Itu sudah bersih. Termasuk pengolahan dan biaya distribusi,” ucapnya.

Disebutkan dia, kegunaan tak seperti rumor yang beredar bahwa kratom digunakan untuk aktivitas tak lazim. Tepung kratom di negara-negara tersebut ternyata sudah menjadi industri. Paling banyak adalah untuk pembuatan obat penghilang nyeri. Selain itu, di sana, tepung kratom diolah menjadi berbagai macam kratom, seperti kosmetik berupa sabun dan lotion spa. Dalam olahan lain kratom diubah menjadi minuman kesehatan. Banyak juga yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk aroma terapi dan pembuatan dupa atau hio.

“Tetapi kita kirim ke sana masih dalam bentuk bahan mentah yaitu tepung kratom. Belum ada yang mencoba untuk mengolahnya, karena masih terkendala kebingungan aturan terhadap komoditas ini. Jangan sampai Kalbar sebagai tempat asal dan endemik tanaman ini menjadi penonton saja. Sedangkan negara lain sudah membudidayakan dan mengembangkan tanaman yang disebut orang luar sana sebagai daun dewa,” ucapnya.

Untuk mencari solusi terhadap hal tersebut, Asosiasi Kratom Borneo akan menggelar seminar nasional di Hotel Harris, Pontianak Jumat (24/2) ini. Acara tersebut akan menghadirkan pembicara Direktur Jenderal Kebudayaan Dr Hilmar PhD. Hadir pula Kepala BPOM Pusat, Kepala Peneliti dan Pengembangan Kementerian Kesehatan. “Kami berharap seminar ini dapat menghasilkan solusi pasti bagi para petani dan pengusaha kratom di Kalbar,” pungjas Ketua Panitia Fasisal Putra Perdana. (ars)

Sumber: Pontianak Post

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *